Para Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan yang terhormat,
Perekonomian global masih diliputi ketidakpastian. Perubahan arah kebijakan ekonomi negara-negara utama, khususnya Amerika Serikat (“AS”), Tiongkok, dan kawasan Eropa, telah memperlambat laju pertumbuhan dunia. Kondisi ini diperburuk oleh eskalasi perang dagang AS-Tiongkok serta kebijakan penurunan suku bunga The Fed yang lebih agresif. Pemangkasan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin ke kisaran 3,50 – 3,75% mencerminkan pelemahan pasar tenaga kerja AS dan perlambatan aktivitas ekonominya. Ketidakpastian geo-politik turut mendorong kenaikan harga emas, sementara harga minyak dan batu bara mengalami penurunan signifikan.
Tekanan eksternal berimbas kepada pelemahan nilai tukar Rupiah. Namun demikian, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi dengan inflasi tetap terjaga rendah sebesar 2,92% (yoy). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang sebesar 5,03% (yoy). Pertumbuhan ini terjadi hampir di seluruh lapangan usaha, kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi 0,66%. Sektor jasa mencatat pertumbuhan signifikan, antara lain Jasa Lainnya (9,93%), Jasa Perusahaan (9,10%), serta Transportasi dan Pergudangan (8,78%). Sektor dominan seperti Industri Pengolahan serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, masing-masing tumbuh 5,30% dan 5,49%. Kontribusi terbesar masih berasal dari Pulau Jawa (56,93%), diikuti Sumatera (22,22%), Kalimantan (8,12%), Sulawesi (7,22%), Bali dan Nusa Tenggara (2,82%), serta Maluku dan Papua (2,69%).
Di tengah tekanan eksternal, sektor jasa keuangan tetap solid dengan likuiditas, profil risiko, dan solvabilitas yang memadai. Piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan tumbuh 0,61% (yoy) pada Desember 2025 dengan nominal sebesar Rp506,5 triliun, didukung pembiayaan modal kerja yang meningkat 10,06% (yoy). Profil risiko perusahaan pembiayaan terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross tercatat 2,51% dan NPF net 0,77%. Sementara, gearing ratio berada pada level 2,18 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali.



